Rabu, 09 November 2016

Kunanti Kau Dipintu Surga

KUNANTI KAU DIPINTU SURGA









“Cinta....cinta itu buta dan tuli, tak melihat, dan tak mendengar

Tak melihat kekurangan dan kelebihan yang dicinta, yang nampak hanyalah ketulusan

karena hatilah yang menilai, bukan mata.

Tak mendengar  dan tak peduli tentang siapa yang dicinta karena cinta datangnya dari hati.

dan merupakan karunia dari sang Pencipta.”



Aku Alif Ananda anak tunggal dari keluarga sederhana yang tinggal di desa,orang tuaku hanyalah pegawai honoran biasa yang gajinya hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, namun aku selalu bersyukur karena aku  memiliki orang tua yang sangat menyayangiku. Sejak kecil aku sering sakit-sakitan, karena aku mengidap penyakit turunan, ya sejak umurku 15  tahun aku telah di diagnosa mengalami lemah jantung oleh dokter. tetapi semua itu tidak mengurangi semangatku untuk terus hidup layaknya anak-anak normal lainnya. dan aku tak pernah merasa sedih, karena disampingku ada orang-orang yang selalu menyayangiku. Ayahku, Ibuku, dan sahabat-sahabatku yang selalu ada disaat aku membutuhkan mereka. Terima kasihku kepada kedua orang tuaku, sahabat-sahabatku, dan yang teristimewa buat Aisyah yang selalu memberiku motivasi untuk tetap semangat menjalani sisa hidupku.


Aisyah, ia adalah sosok wanita yang sangat tegar walaupun ia tahu kalau aku penyakitan tetapi tak mengurangi sedikitpun rasa cintanya padaku,aku selalu mengetahui itu, namun aku sadar, tak pantas wanita sebaik dia harus menanggung beban yang aku bawa. andai saja aku tak berpenyakitan.....andai saja......



Tak akan aku lupa waktu pertama aku bertemu dengan Aisyah, Aisyah adalah anak kota yang sangat cantik, yang pada waktu itu berlibur bersama keluarganya di vila mereka yang berada di puncak tak jauh dari desaku. dekat vila mereka ada sebuah danau yang sangat indah, danau yang menjadi tempat favorit aku dan sahabat-sahabatku, terkadang aku menyendiri dan menghabiskan waktuku untuk membaca dan menulis diary di bawah pohon besar dekat danau itu, dan pohon itulah yang menjadi saksi pertemuanku dengan Aisyah dan mungkin akan menjadi tempat perpisahanku dengannya nanti.


 ***


Hari itu hari minggu, sudah menjadi rutinitas kami untuk bersepeda pagi, pagi itu aku dan sahabat-sahabatku bersepeda melewati perkebunan teh milik saudagar kaya yang entah akupun tak tahu namanya. tujuan kami adalah danau, danau yang menjadi tempat kami menumpahkan isi hati dan saling berbagi rasa, entah rasa susah, senang, atau apapun itu kami percaya dengan berbagi, beban yang berat akan terasa ringan. Itulah persahabatan yang akan selalu kuingat walau nantinya aku tak lagi bersama mereka.
penyakit yang menggerogotiku semakin lama semakin mengganas namun aku tak mau sampai sahabat-sahabatku cemas memikirkanku, aku selalu berusaha untuk kuat dan tegar didepan mereka, walau kenyataanya aku rapuh.



Setelah kami melewati perkebunan teh kamipun sampai di danau yang begitu indah dipagi hari. kicauan burung seakan menghibur hatiku yang rapuh, aku hanya tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatku yang berlari-lari kecil di tepi danau. aku yang tengah asik menulis diary di bawah pohon tempat favoritku, tiba-tiba dikejutkan oleh sahabat-sahabatku.hal terlucu yang pernah aku dengar dari mereka, mereka mengatakan kalau ada bidadari turun ke danau. Akupun sempat tertawa, aku berfikir mereka hanya ingin menghibur hatiku, namun mereka terus memaksaku untuk melihat, dan setelah dipaksa terus-menerus akupun mengikuti mereke ketempat bidadari itu, ternyata sahabat-sahabatku benar, ada seorang wanita cantik yang duduk di jembatan kayu dekat vila, ya dialah Aisyah, namun kami hanya melihatnya dari jauh, jujur aku mengagumi kecantikannya, wajahnya yang begitu tenang bagai tak pernah ada beban yang ia bawa, dialah wanita pertama yang berhasil mencuri hatiku namun aku sadar siapa aku, aku hanyalah anak desa yang penyakitan, jelas sekali perbedaan kami, bagai langit dan bumi yang jelas tak mungkin bersatu.

 ***


Seperti biasa aku sering ke danau hanya sekedar melepaskan beban yang terlalu berat untuk ku pikul sendiri, diaryku adalah teman paling setia untuk berbagi penderitaan, ya sesekali aku mencuri pandang hanya untuk mengagumi sang bidadari tanpa ia tahu. pada suatu hari aku sedang asyik bermain dengan diaryku, tiba-tiba hujan turun sangat deras aku tak tahu harus berteduh kemana, aku hanya bisa pasrah menerima titik demi titik air yang jatuh membasahi tubuhku, tanpa aku duga tiba-tiba sang bidadari datang menawarkan payung buatku, ternyata dia tahu kalau aku sering duduk menulis disini. Disinilah awal kami saling mengenal, beberapa hari kemudian kami semakin akrab aku merasa ada sesuatu yang beda saat aku bersamanya, aku selalu merasa damai. sedikit demi sedikit aku lupa akan penderitaanku, dia selalu membuat aku tersenyum dan tak lama kemudian kamipun jadian  ( 15-Mei-2015 ), aku selalu bersyukur karena disisa umurku yang tak lama lagi, aku masih sempat mengenalnya yang begitu tulus mencintaiku.

  

Hari ini ( selasa 04 oktober 2016 ) aku merasa akan ada perpisahan dengan orang-orang yang aku sayangi, satu permintaanku untuk yang terakhir kalinya buat mereka.
"aku ingin tempat pertemuanku dengan Aisyah menjadi tempat peristirahatanku untuk yang terakhir." 
Sekali lagi aku ucapkan terima kasih untuk mereka yang selalu ada buatku,dan untuk Aisyah yang selalu setia menemaniku sampai saat ini aku ucapkan terima kasih karena telah mewarnai sisa hari-hariku yang sebelumnya tak berwarna.
 

buatmu bidadariku :

Cinta..cinta bagaikan setetes embun yang jatuh ditengah lautan
tak terasa..tapi kejerniannya dapat membuat ikan-ikan dapat melihat dengan jelas

Cinta..cinta bagaikan kaktus di padang tandus

walaupun panas ia akan tetap hidup

namun kadang cinta tak harus memiliki

yang pasti kan KUNANTI  KAU DIPINTU SURGA.


End.

                                                                                                                                               

 By : Muthalib Jumaela.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya silahkan berkomentar dengan sopan.