KUNANTI KAU DIPINTU SURGA
“Cinta....cinta itu buta dan tuli, tak melihat, dan tak mendengar
Tak melihat kekurangan dan kelebihan yang dicinta, yang nampak hanyalah
ketulusan
karena hatilah yang menilai, bukan mata.
Tak mendengar dan tak peduli tentang
siapa yang dicinta karena cinta datangnya dari hati.
dan merupakan karunia dari sang Pencipta.”
Aku Alif Ananda anak tunggal dari keluarga sederhana yang
tinggal di desa,orang tuaku hanyalah pegawai honoran biasa yang gajinya
hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, namun aku selalu bersyukur karena
aku memiliki orang tua yang sangat
menyayangiku. Sejak kecil aku sering sakit-sakitan, karena aku mengidap
penyakit turunan, ya sejak umurku 15
tahun aku telah di diagnosa mengalami lemah jantung oleh dokter. tetapi semua itu tidak mengurangi semangatku untuk terus
hidup layaknya anak-anak normal lainnya. dan aku tak pernah merasa sedih, karena disampingku ada
orang-orang yang selalu menyayangiku. Ayahku, Ibuku, dan sahabat-sahabatku yang
selalu ada disaat aku membutuhkan mereka. Terima kasihku kepada kedua orang tuaku,
sahabat-sahabatku, dan yang teristimewa buat Aisyah yang selalu memberiku motivasi
untuk tetap semangat menjalani sisa hidupku.
Aisyah, ia adalah sosok wanita yang sangat tegar walaupun
ia tahu kalau aku penyakitan tetapi tak mengurangi sedikitpun rasa cintanya
padaku,aku selalu mengetahui itu, namun aku sadar, tak pantas wanita sebaik dia
harus menanggung beban yang aku bawa. andai saja aku tak berpenyakitan.....andai saja......
Tak akan aku lupa waktu pertama aku bertemu dengan Aisyah, Aisyah adalah anak kota yang sangat cantik, yang pada waktu
itu berlibur bersama keluarganya di vila mereka yang berada di puncak tak jauh
dari desaku. dekat vila mereka ada sebuah danau yang sangat indah,
danau yang menjadi tempat favorit aku dan sahabat-sahabatku, terkadang aku menyendiri
dan menghabiskan waktuku untuk membaca dan menulis diary di bawah pohon besar
dekat danau itu, dan pohon itulah yang menjadi saksi pertemuanku dengan Aisyah
dan mungkin akan menjadi tempat perpisahanku dengannya nanti.
***
Hari itu hari minggu, sudah menjadi rutinitas kami untuk
bersepeda pagi, pagi itu aku dan sahabat-sahabatku bersepeda melewati
perkebunan teh milik saudagar kaya yang entah akupun tak tahu namanya. tujuan kami adalah danau, danau yang menjadi tempat kami
menumpahkan isi hati dan saling berbagi rasa, entah rasa susah, senang, atau
apapun itu kami percaya dengan berbagi, beban yang berat akan terasa
ringan. Itulah persahabatan yang akan selalu kuingat walau
nantinya aku tak lagi bersama mereka.
penyakit yang menggerogotiku semakin lama semakin
mengganas namun aku tak mau sampai sahabat-sahabatku cemas memikirkanku, aku
selalu berusaha untuk kuat dan tegar didepan mereka, walau kenyataanya aku
rapuh.
Setelah kami melewati perkebunan teh kamipun sampai di
danau yang begitu indah dipagi hari. kicauan burung seakan menghibur hatiku yang rapuh, aku
hanya tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatku yang berlari-lari kecil di
tepi danau. aku yang tengah asik menulis diary di bawah pohon tempat favoritku,
tiba-tiba dikejutkan oleh sahabat-sahabatku.hal terlucu yang pernah aku dengar dari mereka, mereka
mengatakan kalau ada bidadari turun ke danau. Akupun sempat tertawa, aku berfikir mereka hanya ingin
menghibur hatiku, namun mereka terus memaksaku untuk melihat, dan setelah
dipaksa terus-menerus akupun mengikuti mereke ketempat bidadari itu, ternyata
sahabat-sahabatku benar, ada seorang wanita cantik yang duduk di jembatan kayu
dekat vila, ya dialah Aisyah, namun kami hanya
melihatnya dari jauh, jujur aku mengagumi kecantikannya, wajahnya yang begitu
tenang bagai tak pernah ada beban yang ia bawa, dialah wanita pertama yang
berhasil mencuri hatiku namun aku sadar siapa aku, aku hanyalah anak desa yang
penyakitan, jelas sekali perbedaan kami, bagai langit dan bumi yang jelas tak
mungkin bersatu.
***
Seperti biasa aku sering ke danau hanya sekedar
melepaskan beban yang terlalu berat untuk ku pikul sendiri, diaryku adalah
teman paling setia untuk berbagi penderitaan, ya sesekali aku mencuri pandang
hanya untuk mengagumi sang bidadari tanpa ia tahu. pada suatu hari aku sedang asyik bermain dengan diaryku,
tiba-tiba hujan turun sangat deras aku tak tahu harus berteduh kemana, aku hanya bisa pasrah
menerima titik demi titik air yang jatuh membasahi tubuhku, tanpa aku duga
tiba-tiba sang bidadari datang menawarkan payung buatku, ternyata dia tahu
kalau aku sering duduk menulis disini. Disinilah awal kami saling mengenal, beberapa hari
kemudian kami semakin akrab aku merasa ada sesuatu yang beda saat aku bersamanya, aku
selalu merasa damai. sedikit demi sedikit aku lupa akan penderitaanku, dia
selalu membuat aku tersenyum dan tak lama kemudian kamipun jadian ( 15-Mei-2015 ), aku selalu bersyukur karena
disisa umurku yang tak lama lagi, aku masih sempat mengenalnya yang begitu
tulus mencintaiku.
Hari ini ( selasa
04 oktober 2016 ) aku merasa akan ada perpisahan dengan orang-orang yang aku
sayangi, satu permintaanku untuk yang terakhir kalinya buat mereka.
"aku ingin
tempat pertemuanku dengan Aisyah menjadi tempat peristirahatanku untuk yang
terakhir."
Sekali lagi aku
ucapkan terima kasih untuk mereka yang selalu ada buatku,dan untuk Aisyah
yang selalu setia menemaniku sampai saat ini aku ucapkan terima kasih karena
telah mewarnai sisa hari-hariku yang sebelumnya tak berwarna.
buatmu bidadariku :
Cinta..cinta bagaikan setetes embun yang jatuh
ditengah lautan
tak terasa..tapi kejerniannya dapat membuat
ikan-ikan dapat melihat dengan jelas
Cinta..cinta bagaikan kaktus di padang tandus
walaupun panas ia akan tetap hidup
namun kadang cinta tak harus memiliki
yang pasti kan KUNANTI KAU DIPINTU SURGA.
End.
By : Muthalib Jumaela.